Belajar Matematika Aljabar dengan Asyik untuk Anak-anak dan Dewasa

Waktu itu saya agak santai – biasanya memang santai terus. Mengobrol apa saja dengan Ahya (8 tahun) siswa APIQ yang sudah banyak menguasai aritmetika.

Saya pikir Ahya sudah sangat baik menguasai aritmetika. Pada usianya yang baru 8 tahun ia sudah bisa menghitung dengan cepat penjumlahan, pengurangan, perkalian mau pun pembagian. Ahya dapat menghitung dengan bantuan pensil-kertas atau hanya dengan imajinasinya saja. Tentu saja ia juga bisa menggunakan alat bantu kalkulator atau komputer.

Di sela-sela mengobrol itu saya penasaran untuk mencoba mengenalkan aljabar kepada Ahya. Akan seperti apa ya, anak kecil yang sudah menguasai aritmetika kemudian kita tantang dengan konsep aljabar?

Aljabar biasa diajarkan untuk siswa SMP. Konsep paling dasar dari aljabar biasanya dikenalkan ketika kelas 1 SMP seperti identitas (a+b)(c+d) = ac + ad + bc + bd. Ketika kelas 2 SMP, para siswa mulai berkenalan dengan konsep aljabar untuk menyelesaikan persamaan dengan 2 variabel (peubah). Seperti

2x + 3y = 8

2x + 5y = 12

Tentukan nilai x dan y.

Siswa SMP akan memecahkan sistem persamaan di atas dengan metode substitusi atau eliminasi.

Tetapi tidak bijak memperkenalkan konsep aljabar seperti di atas kepada anak usia 8 tahun kan?

Saya memutar otak. Memacu imajinasi. Menyusun skenario sesaat.

“Harga 2 apel ditambah 2 mangga = 6.000 rupiah.

Harga 2 apel ditambah 4 mangga = 10.000 rupiah.

Berapa harga 1 apel?

Berapa harga 1 mangga?”

Itulah pertanyaan saya kepada Ahya.

Ahya tertarik. Dia berusaha menghitung. Dia menemukan jawaban semacam ini.

“Harga 2 mangga = 4.000 rupiah.

Harga 4 mangga = 8.000 rupiah.

Harga 2 apel = 2.000 rupiah.”

Lalu saya tanya lagi,

“ 1 apel, 1 mangga, berapa harganya?”

“O…itu… 1 apel = 1.000 rupiah. 1 mangga = 2.000 rupiah.”

Mengagumkan!

Itu adalah jawaban yang benar. Saya ingin tahu bagaimana cara Ahya menghitungnya. Karena saat itu sedang ngobrol santai, Ahya tidak menggunakan alat bantu apa pun untuk menyelesaikannya. Bahkan ia tidak menggunakan pensil dan kertas. Ahya hanya memanfaatkan imajinasinya saja.

Saya mencoba memberi tantangan soal yang lebih bervariasi. Dengan semangat Ahya berusaha memecahkan tantangan itu. Ketika soal yang saya berikan semakin kompleks, Ahya berusaha mencari kertas dan pensil. Itu cara yang sah dan baik. Memecahkan persamaan aljabar dengan alat bantu kertas dan pensil.

Sampai pada akhirnya, Ahya mampu juga memecahkan persamaan abstrak aljabar sederhana dengan 2 variabel. Agar lebih keren saya gunakan variabel x dan y seperti siswa SMP dan SMA.

Dari interaksi dengan Ahya itu saya mendapat banyak ide. Mungkinkah saya bisa memperkenalkan konsep aljabar ini kepada anak yang lebih dini lagi usianya?

Dengan sususan yang lebih rapi saya mencoba memperkenalkan konsep aljabar kepada Adra (6 tahun), siswa APIQ juga. Hasilnya? Adra juga dapat mempelajari konsep aljabar tersebut. Dengan rasa penasaran dan riang gembira tentunya.

Aljabar dapat kita perkenalkan kepada putra-putri kita sejak usia dini. Asalkan caranya tepat. Tetap menjaga rasa penasaran, takjub dan riang gembira.

 

Salam hangat…

(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s