APIQ: Matematika Kreatif Khas Indonesia

Teman saya, DR Budi Rahardjo, mengungkapkan bahwa putra-putri Indonesia adalah orang-orang yang sangat kreatif. Dalam berbagai kompetisi lomba pemrogaman komputer tingkat dunia, putra-putri Indonesia sering menjuari kompetisi itu. Beberapa bulan lalu Bill Gates berkunjung ke Indonesia. Bill Gates memuji tim putra-putri Indonesia dari Bandung yang menjuarai kompetisi internasional dalam pemrogaman komputer.

Di bidang olimpiade matematika dan ilmu pengetahuan, prestasi putra-putri kita juga sangat membanggakan. Sekitar dua tahun yang lalu putra-putri kita berhasil menjadi juara Olimpiade Fisika Internasional. Kompas dan media massa lain meliput para pahlawan muda indonesia yang kreatif. Tetapi Kompas, buru-buru menambahkan bahwa prestasi harum putra-putri kita itu bukan hasil dari sistem pendidikan indonesia. Melainkan hasil dari proses belajar di luar sistem pendidikan dan peran bakat yang ada dalam diri putra-putri Indonesia.

Bagaimana pun, prestasi beberapa putra-putri Indonesia tersebut memberi rasa optimis bagi kita untuk bangkit. Dengan sistem pendidikan yang tepat kita optimis bahwa Indonesia dapat bangkit dari keterpurukan dan mengukir prestasi di kancah dunia.

Csikszentmihalyi mengungkapkan bahwa kreativitas tidak muncul begitu saja dari dalam diri seseorang. Bakat kreatif memang penting. Tetapi lingkungan yang melingkupi dapat menjadi penentu yang lebih penting lagi. Interaksi dengan lingkungan, berpikiran terbuka terhadap ide orang lain, sistem pendidikan khusus berperan penting dalam menumbuhkan krativitas seseorang. (Baca Csikszentmihalyi, Mihaly, 1996. Creativity)

Dalam proses pembelajaran matematika, kita juga perlu menemukan berbagai macam terobosan kreatif. Terobosan-terobosan ini membuka wawasan bagi putra-putri kita bahwa belajar matematika itu melibatkan suatu proses kreatif yang menantang. Saya telah menguji berbagai metode pembelajaran matematika kreatif yang berhasil memicu keterlibatan kreatif para siswa. (Baca Nggermanto, Agus, 2001, Quantum Quotient). Metode pembelajaran matematika kreatif tersebut kemudian saya susun menjadi sebuah konsep utuh dengan nama APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika Kreatif.

 

Hasil Pengujian APIQ di Lapangan

Prahalad mengungkap bahwa proses kreatif di jaman ini sudah mulai bergeser menjadi proses ko-kreasi (berkreasi bersama-sama). Dahulu kita membayangkan orang kreatif adalah orang yang memperoleh ilham ketika merenung di tempat sepi. Tetapi saat ini kita dapat menemukan orang kreatif yang memperoleh ilham kreatifnya ketika berinteraksi dengan pihak lain. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi memudahkan proses ko-kreasi tersebut. (Baca Prahalad, C. K., and Ramaswan, Venkat, 2004. The Future of Competiton)

Matematika kreatif APIQ mengambil pendekatan ko-kreasi yang digagas oleh Prahalad di atas. APIQ telah menyiapkan konsep yang utuh kemudian menguji kepada para siswa. Dalam proses pengujian itu tim APIQ membuka diri untuk menerima masukan-masukan dari para siswa – dan pihak terkait seperti orang tua, pengamat, dan lain-lain. Proses pengujian tersebut menjadi sebuah siklus tanpa akhir, sebuah proses ko-kreasi terus menerus.

Dari pengujian APIQ tersebut kami memperoleh hasil:

  1. Meningkatkan motivasi belajar matematika setelah tatap muka yang pertama. Hal ini berlaku khususnya bagi siswa yang sudah mengenal operasi perkalian. Sebagian besar terdiri dari siswa kelas 3 SD atau yang lebih tinggi.
  2. Meningkatkan minat eksplorasi siswa terhadap suatu fenomena. Khususnya bagi siswa yang berusia 4 tahun atau masih TK, APIQ memperkenalkan konsep matematika melalui berbagai jenis mainan fisik. Siswa-siswa ini asyik mengeksplorasi mainan. Tanpa sengaja mereka menguasai berbagai macam konsep matematika kreatif. (Kunjungi dan baca situs APIQ melalui google.com dengan kata kunci “kartu edukasi APIQ”.)
  3. Mengubah prespektif negatif terhadap matematika menjadi lebih positif. Khususnya untuk orang dewasa, sudah lulus SMA atau sederajat, APIQ berhasil memperkenalkan kembali matematika sebagai sebuah bidang studi yang menyenangkan dan mudah. Tetapi orang dewasa ini tetap tidak tertarik untuk menekuni belajar matematika. Mereka hanya percaya bahwa matematika itu dapat saja dipelajari dengan cara yang menyenangkan.
  4. Siswa yang belajar APIQ seminggu 2 kali memperoleh hasil lebih bagus dari temannya yang belajar APIQ seminggu 1 kali. Bahkan hasil belajar APIQ menjadi berkurang – hampir mendekati nol – bila siswa kadang tidak menepati jadwal seminggu 1 kali tersebut. Tetapi bagi siswa yang belajar seminggu 2 kali tetap memperoleh kemajuan signifikan meski sesekali mereka tidak menepati jadwal belajar.
  5. Komunikasi dengan orang tua siswa memegang peran penting. Orang tua siswa yang sering berkomunikasi dengan tim APIQ menunjukkan bahwa anak-anaknya memperoleh kemajuan lebih bagus dari orang tua yang kurang berkomunikasi dengan tim APIQ. Saat ini tim APIQ sedang mengembangkan cara proaktif untuk berkomunikasi dengan orang tua siswa.

Hasil pengujian di lapangan ini terus kami kaji untuk menghasilkan inovasi-inovasi kreatif lanjutan. Seluruh partisipan yang kami uji adalah wargaIndonesia. Di satu sisi hal ini menjadi keterbatasan bahwa APIQ hanya berlaku untuk wargaIndonesia. Di sisi lain, hal ini menjadi keunggulan karena konsep APIQ dapat kita terapkan untuk kondisi negara Indonesia yang kita cintai ini.

(angger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s