Kunci Sukses Belajar Matematika: Mastery Learning

Posted on Juni 21, 2012 | www.apiq.tk

Anda pasti membutuhkan kunci sukses belajar matematika.

Setelah berpuluh-puluh tahun menekuni dunia belajar-mengajar matematika, Paman APIQ, menegaskan kunci sukses belajar matematika adalah Mastery Learning. Seorang anak menjadi lebih mahir menguasai konsep matematika dengan cara mastery learning. Di seluruh kelas-kelas APIQ kita juga selalu memanfaatkan mastery learning.

Anda dapat menikmati rahasia sukses mastery learning matematika kreatif dalam forum training APIQ 30 Juni 2012 di Bandung. Salah satu inovasi terbaru APIQ adalah mastery learning untuk geometri. Selamat bergabung…!

Training Instruktur APIQ Quantum akan kami selenggarakan,

Hari: Sabtu
Tanggal: 30 Juni 2012
Waktu: 08.30 – 18.00 wib
Tempat: Bandung, Hotel Scarlet Dago, Jl Siliwangi 5

Training Matematika Kretif dan Asyik bersama APIQ

Training Kreatif

Investasi: FREE bagi yang pernah ikut training APIQ (excluded lunch). Rp 750.000,- bagi peserta baru dan FREE mengikuti training APIQ berikutnya. Pembayaran melalui transfer,

Mandiri | 13 2000 67 220 53 | Cicik C
BNI | 01 39 220 032 | Cicik C
BCA | 233 246 1258 | Agus N

Info: quantumyes@yahoo.com | 0818 22 0898

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MathOpoli: Permainan Matematika Makin Asyik

Posted on Juni 21, 2012 | www.apiq.tk

Anak-anak sangat menyukai permainan dan game. Apalagi ini adalah permainan matematika yang menjadikan anak kita makin cerdas. Pasti lebih seru!

Game MathOpoli terinspirasi dari permainan APIQ Race, Monopoli, dan Cashflow Game.

Paman APIQ mengembangkan ide MathOpoli ini agar anak kita makin kreatif menguasai matematika.

Lingkaran dalam merupakan lingkaran dasar yang berupa petualangan aritmetika dasar jumlah, kali, kurang, bagi. Anak kita yang sudah lolos dari lingkaran dalam maka ia akan masuk ke lingkaran luar atau lingkaran besar.

Lingkaran luar merupakan petualangan lebih lanjut Al, Geo, dan Meti.

Salam hangat…

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cara Belajar Matematika ASYIK untuk Siswa, Guru, dan Orang Tua

Posted on Juni 19, 2012 | Tinggalkan Komentar

Matematika kini tampil lebih asyik dan kreatif bersama APIQ.Silakan bergabung bersama APIQ raih prestasi dengan lebih kreatif.

“Menyenangkan dan kreatif. Tidak membosankan. Sukses selalu buat Paman APIQ!” Fata.

“Menyenangkan, menyegarkan fikiran + ilmu yang bermanfaat untuk dishare ke anak-anakku,” Ida Pujiastuti.

“Alhamdulilah mendapat pencerahan dan tambahan ilmu. Mudah-mudahan lebih fun memberikan pelajaran matematika kepada siswa-siswa di sekolah.
Karena banyak kesulitan dan tuntutan dari program/materi secara keseluruhan kami lebih ingin mendapatkan tips dan trik per SK/KD. (Standar kompetensi/ kompetensi dasar.)” Susi K.

“Jadi pingin buka kursus APIQ di rumah kalau punya uang. Promo dong Paman APIQ ke sekolah-sekolah…” Abdul Rahman.

“Waktu singkat, masih banyak yang harus dibahas. Ternyata matematika mudah. Siswa jadi tidak sulit, (menyenangkan), jika semua dibahas dengan simple dan happy.” Dede Hermansyah

“Sangat menarik, matematika manjadi sangat menyenangkan. Perlu diadakan pelatihan yang lebih sering dengan biaya terjangkau. Rasanya saya ingin berguru dengan Paman APIQ.” Melani.

“Lebih sering diadakan pelatihan semacam ini. Banyak sekali cara cepat yang dapat saya pakai untuk mengajar nanti. “ Denny Fitri.

“Menarik, rumus praktis dan meyenangkan terkadang diperlukan untuk meningkatkan kemauan belajar siswa.” Endah.

“Tolong matematika lain dipermudah seperti ini Pak. Banyak pencerahan yang didapat. Pengen buat game-nya. Alhamdulilah, sesuatu.” Ahmad.

“Pembelajaran APIQ memang sangat APIK dan perlu diterapkan.” Endang Wahyu D.

“Matematika menjadi asyik dan tidak membosankan. Alhamdulilah… hari yang menyenangkan.” Jarwati.

“Alhamdulilah saya dapat mengikuti pelatihan ini, karena banyak trik penyelesaian matematika yang dapat dipelajari. Mudah-mudahan pelatihan ini dapat diselenggarakan lebih lama lagi (tidak hanya 1 hari sehingga seluruh materi dapat tercakup).” Pangastuti.

“APIQ ==> APIK TENAN !!!” Iin Mulyani

“APIQ penuh inspiratif, kreatif. Alhamdulilah banyak tambahan dan wawasan + ide-ide yang sangat bermanfaat untuk menghilangkan paradigma matematika sulit. With APIQ, no GALAU….!!!” Irma Rohma.

“Menarik, kreatif, dan menyenangkan. Buat komunitas guru matematika sebagai follow up. Buat program selanjutnya.” Abdul Khoir

“APIQ…asyik, sangat membantu sekali! Semoga bisa digunakan di semua materi matematika, mulai dari soal mudah sampai soal tersulit, amien….!” Sri Mulyati.

“Tidak menyangka dengan mengikuti pelatihan APIQ tingkat SMA/SMK saya mendapatkan ilmu cara cepat menghitung perhitungan yang sulit & memakan waktu yang lama. Ini sangat bermanfaat terutama untuk siswa kelas XII yang akan menghadapi UN. Dengan jumlah soal 40 dan waktu 120 menit rata-rata 1 soal mereka harus menjawab 3 menit.
Mudah-mudahan dengan metode APIQ dapat mempermudah siswa-siswa saya dalam menjawab soal sekaligus dapat merubah pemikiran mereka bahwa MATEMATIKA IS FUN.” Kamilah.

“Mohon minta softcopy slide Bapak. Luar…biasa…!” Catur Budi.

“Mengerti konsep dasar materi akan lebih baik dan LEBIH HEBAT jika digabungkan dengan cara-cara praktis dan menyenangkan yang Paman APIQ berikan.

It’s very nice knowing that we can share mathematics in very fun way… I love math….. I hope I can share it with my children and my students. Thank you very much.” Ernawati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Belajar Matematika Aljabar dengan Asyik untuk Anak-anak dan Dewasa

Waktu itu saya agak santai – biasanya memang santai terus. Mengobrol apa saja dengan Ahya (8 tahun) siswa APIQ yang sudah banyak menguasai aritmetika.

Saya pikir Ahya sudah sangat baik menguasai aritmetika. Pada usianya yang baru 8 tahun ia sudah bisa menghitung dengan cepat penjumlahan, pengurangan, perkalian mau pun pembagian. Ahya dapat menghitung dengan bantuan pensil-kertas atau hanya dengan imajinasinya saja. Tentu saja ia juga bisa menggunakan alat bantu kalkulator atau komputer.

Di sela-sela mengobrol itu saya penasaran untuk mencoba mengenalkan aljabar kepada Ahya. Akan seperti apa ya, anak kecil yang sudah menguasai aritmetika kemudian kita tantang dengan konsep aljabar?

Aljabar biasa diajarkan untuk siswa SMP. Konsep paling dasar dari aljabar biasanya dikenalkan ketika kelas 1 SMP seperti identitas (a+b)(c+d) = ac + ad + bc + bd. Ketika kelas 2 SMP, para siswa mulai berkenalan dengan konsep aljabar untuk menyelesaikan persamaan dengan 2 variabel (peubah). Seperti

2x + 3y = 8

2x + 5y = 12

Tentukan nilai x dan y.

Siswa SMP akan memecahkan sistem persamaan di atas dengan metode substitusi atau eliminasi.

Tetapi tidak bijak memperkenalkan konsep aljabar seperti di atas kepada anak usia 8 tahun kan?

Saya memutar otak. Memacu imajinasi. Menyusun skenario sesaat.

“Harga 2 apel ditambah 2 mangga = 6.000 rupiah.

Harga 2 apel ditambah 4 mangga = 10.000 rupiah.

Berapa harga 1 apel?

Berapa harga 1 mangga?”

Itulah pertanyaan saya kepada Ahya.

Ahya tertarik. Dia berusaha menghitung. Dia menemukan jawaban semacam ini.

“Harga 2 mangga = 4.000 rupiah.

Harga 4 mangga = 8.000 rupiah.

Harga 2 apel = 2.000 rupiah.”

Lalu saya tanya lagi,

“ 1 apel, 1 mangga, berapa harganya?”

“O…itu… 1 apel = 1.000 rupiah. 1 mangga = 2.000 rupiah.”

Mengagumkan!

Itu adalah jawaban yang benar. Saya ingin tahu bagaimana cara Ahya menghitungnya. Karena saat itu sedang ngobrol santai, Ahya tidak menggunakan alat bantu apa pun untuk menyelesaikannya. Bahkan ia tidak menggunakan pensil dan kertas. Ahya hanya memanfaatkan imajinasinya saja.

Saya mencoba memberi tantangan soal yang lebih bervariasi. Dengan semangat Ahya berusaha memecahkan tantangan itu. Ketika soal yang saya berikan semakin kompleks, Ahya berusaha mencari kertas dan pensil. Itu cara yang sah dan baik. Memecahkan persamaan aljabar dengan alat bantu kertas dan pensil.

Sampai pada akhirnya, Ahya mampu juga memecahkan persamaan abstrak aljabar sederhana dengan 2 variabel. Agar lebih keren saya gunakan variabel x dan y seperti siswa SMP dan SMA.

Dari interaksi dengan Ahya itu saya mendapat banyak ide. Mungkinkah saya bisa memperkenalkan konsep aljabar ini kepada anak yang lebih dini lagi usianya?

Dengan sususan yang lebih rapi saya mencoba memperkenalkan konsep aljabar kepada Adra (6 tahun), siswa APIQ juga. Hasilnya? Adra juga dapat mempelajari konsep aljabar tersebut. Dengan rasa penasaran dan riang gembira tentunya.

Aljabar dapat kita perkenalkan kepada putra-putri kita sejak usia dini. Asalkan caranya tepat. Tetap menjaga rasa penasaran, takjub dan riang gembira.

 

Salam hangat…

(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Menyelamatkan Kecerdasan Logika Matematika Anak dari Kursus Matematika

Ironis!

Bukankah kursus matematika seharusnya menumbuh-kembangkan kecerdasan, logika, dan nalar matematika anak kita?

Mengapa kita harus menyelamatkan kecerdasan, logika, dan nalar matematika putra-putri kita?

Ketika masa jayanya kursus sempoa, saya diskusi dengan sahabat saya yang mahasiswa ITB.

“Saya tidak akan memasukkan anak saya ke kursus sempoa!”

“Mengapa? Bukankah anak-anak jadi dapat berhitung cepat?” saya bertanya.

“Tidak ada gunanya anak dapat berhitung cepat. Cukup dengan uang 5 ribu rupiah, anak saya sudah dapat berhitung lebih cepat dari itu.”

“Bagaimana caranya?”

“Saya belikan saja kalkulator di Gasibu seharga 5 ribu rupiah. Beres semuanya!”

Teman saya itu menganalisis kursus matematika sempoa dengan sangat kritis. Saya pikir ia benar dengan pandangannya seperti itu. Ketika matematika direduksi tinggal aritmetika, kemudian direduksi tinggal berhitung dasar, kemudian direduksi lagi menjadi proses mekanis belaka, maka hilanglah kecerdasan matematika.

“Menurut kamu apakah APIQ juga setara dengan kalkulator dari Gasibu?”

“Tidak. APIQ kan juga memperkenalkan konsep geometri, aljabar, statistik, dan lain-lain. Bahkan semua dikemas dalam suasana permainan kreatif. Jadi APIQ dapat mengembangkan kecerdasan, logika, dan nalar anak kita.”

Memang kita perlu hati-hati mengajarkan sempoa ke anak-anak kita. Sempoa memang bagus. Tetapi bila tepat pemanfaatannya. Sempoa adalah sekedar alat bantu hitung dasar penjumlahan dan pengurangan khusus untuk bilangan bulat positif. Untuk perkalian dan pembagian sudah bukan keunggulan alami dari sempoa. Apalagi kuadrat atau pangkat yang lebih tinggi!

“Bagaimana dengan berhitung dengan jari?”

“Sama saja dengan sempoa!”

“Tapi kan jarimatika tidak perlu alat bantu! Hanya menggunakan jari. Jadi kamu tidak bisa membandingkannya dengan kalkulator dari Gasibu itu!”

“Lalu bila dengan jari apakah bisa untuk geometri, aljabar, kalkulus?”

“Memang tidak bisa sih… Tapi berhitung dengan jari kan produk dalam negeri. Banyak memberdayakan kaum ibu!”

“Saya setuju itu. Memajukan produk dalam negeri. Memajukan kaum ibu. Wirausaha. Itu semua bagus. Tapi juga harus sekaligus memberi nilai tambahan bagi kecerdasan matematika anak kita!”

“Ah…kamu terlalu kritis saja hari ini. Aku tidak mau diskusi lagi dengan kamu. Jika aku tanya lagi tentang metode-metode dari Jepang, Bimbingan Belajar atau lainnya pasti kamu sewot lagi.”

“Aku memang kritis tapi tidak sewot,” jawabnya dengan sewot.

“Mari kita ganti topik diskusi aja. Bagaimana pendapat kamu tentang kemajuan demokrasi di Indonesia?”

….???….

Salam hangat…

(angger; agus Nggermanto: Pendiri APIQ)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

APIQ: Matematika Kreatif Khas Indonesia

Teman saya, DR Budi Rahardjo, mengungkapkan bahwa putra-putri Indonesia adalah orang-orang yang sangat kreatif. Dalam berbagai kompetisi lomba pemrogaman komputer tingkat dunia, putra-putri Indonesia sering menjuari kompetisi itu. Beberapa bulan lalu Bill Gates berkunjung ke Indonesia. Bill Gates memuji tim putra-putri Indonesia dari Bandung yang menjuarai kompetisi internasional dalam pemrogaman komputer.

Di bidang olimpiade matematika dan ilmu pengetahuan, prestasi putra-putri kita juga sangat membanggakan. Sekitar dua tahun yang lalu putra-putri kita berhasil menjadi juara Olimpiade Fisika Internasional. Kompas dan media massa lain meliput para pahlawan muda indonesia yang kreatif. Tetapi Kompas, buru-buru menambahkan bahwa prestasi harum putra-putri kita itu bukan hasil dari sistem pendidikan indonesia. Melainkan hasil dari proses belajar di luar sistem pendidikan dan peran bakat yang ada dalam diri putra-putri Indonesia.

Bagaimana pun, prestasi beberapa putra-putri Indonesia tersebut memberi rasa optimis bagi kita untuk bangkit. Dengan sistem pendidikan yang tepat kita optimis bahwa Indonesia dapat bangkit dari keterpurukan dan mengukir prestasi di kancah dunia.

Csikszentmihalyi mengungkapkan bahwa kreativitas tidak muncul begitu saja dari dalam diri seseorang. Bakat kreatif memang penting. Tetapi lingkungan yang melingkupi dapat menjadi penentu yang lebih penting lagi. Interaksi dengan lingkungan, berpikiran terbuka terhadap ide orang lain, sistem pendidikan khusus berperan penting dalam menumbuhkan krativitas seseorang. (Baca Csikszentmihalyi, Mihaly, 1996. Creativity)

Dalam proses pembelajaran matematika, kita juga perlu menemukan berbagai macam terobosan kreatif. Terobosan-terobosan ini membuka wawasan bagi putra-putri kita bahwa belajar matematika itu melibatkan suatu proses kreatif yang menantang. Saya telah menguji berbagai metode pembelajaran matematika kreatif yang berhasil memicu keterlibatan kreatif para siswa. (Baca Nggermanto, Agus, 2001, Quantum Quotient). Metode pembelajaran matematika kreatif tersebut kemudian saya susun menjadi sebuah konsep utuh dengan nama APIQ: Inovasi Pembelajaran Matematika Kreatif.

 

Hasil Pengujian APIQ di Lapangan

Prahalad mengungkap bahwa proses kreatif di jaman ini sudah mulai bergeser menjadi proses ko-kreasi (berkreasi bersama-sama). Dahulu kita membayangkan orang kreatif adalah orang yang memperoleh ilham ketika merenung di tempat sepi. Tetapi saat ini kita dapat menemukan orang kreatif yang memperoleh ilham kreatifnya ketika berinteraksi dengan pihak lain. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi memudahkan proses ko-kreasi tersebut. (Baca Prahalad, C. K., and Ramaswan, Venkat, 2004. The Future of Competiton)

Matematika kreatif APIQ mengambil pendekatan ko-kreasi yang digagas oleh Prahalad di atas. APIQ telah menyiapkan konsep yang utuh kemudian menguji kepada para siswa. Dalam proses pengujian itu tim APIQ membuka diri untuk menerima masukan-masukan dari para siswa – dan pihak terkait seperti orang tua, pengamat, dan lain-lain. Proses pengujian tersebut menjadi sebuah siklus tanpa akhir, sebuah proses ko-kreasi terus menerus.

Dari pengujian APIQ tersebut kami memperoleh hasil:

  1. Meningkatkan motivasi belajar matematika setelah tatap muka yang pertama. Hal ini berlaku khususnya bagi siswa yang sudah mengenal operasi perkalian. Sebagian besar terdiri dari siswa kelas 3 SD atau yang lebih tinggi.
  2. Meningkatkan minat eksplorasi siswa terhadap suatu fenomena. Khususnya bagi siswa yang berusia 4 tahun atau masih TK, APIQ memperkenalkan konsep matematika melalui berbagai jenis mainan fisik. Siswa-siswa ini asyik mengeksplorasi mainan. Tanpa sengaja mereka menguasai berbagai macam konsep matematika kreatif. (Kunjungi dan baca situs APIQ melalui google.com dengan kata kunci “kartu edukasi APIQ”.)
  3. Mengubah prespektif negatif terhadap matematika menjadi lebih positif. Khususnya untuk orang dewasa, sudah lulus SMA atau sederajat, APIQ berhasil memperkenalkan kembali matematika sebagai sebuah bidang studi yang menyenangkan dan mudah. Tetapi orang dewasa ini tetap tidak tertarik untuk menekuni belajar matematika. Mereka hanya percaya bahwa matematika itu dapat saja dipelajari dengan cara yang menyenangkan.
  4. Siswa yang belajar APIQ seminggu 2 kali memperoleh hasil lebih bagus dari temannya yang belajar APIQ seminggu 1 kali. Bahkan hasil belajar APIQ menjadi berkurang – hampir mendekati nol – bila siswa kadang tidak menepati jadwal seminggu 1 kali tersebut. Tetapi bagi siswa yang belajar seminggu 2 kali tetap memperoleh kemajuan signifikan meski sesekali mereka tidak menepati jadwal belajar.
  5. Komunikasi dengan orang tua siswa memegang peran penting. Orang tua siswa yang sering berkomunikasi dengan tim APIQ menunjukkan bahwa anak-anaknya memperoleh kemajuan lebih bagus dari orang tua yang kurang berkomunikasi dengan tim APIQ. Saat ini tim APIQ sedang mengembangkan cara proaktif untuk berkomunikasi dengan orang tua siswa.

Hasil pengujian di lapangan ini terus kami kaji untuk menghasilkan inovasi-inovasi kreatif lanjutan. Seluruh partisipan yang kami uji adalah wargaIndonesia. Di satu sisi hal ini menjadi keterbatasan bahwa APIQ hanya berlaku untuk wargaIndonesia. Di sisi lain, hal ini menjadi keunggulan karena konsep APIQ dapat kita terapkan untuk kondisi negara Indonesia yang kita cintai ini.

(angger: agus Nggermanto; Pendiri APIQ)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Belajar Matematika

Beberapa hari terakhir ini saya belajar tentang matematika lagi. Apa pentingnya belajar tentang matematika? Bukankah saya sudah biasa belajar matematika?

Belajar matematika memang sering. Tetapi kali ini saya belajar TENTANG matematika. Jadi agak berbeda. Dulu ketika kuliah kalkulus, saya belajar matematika. Saat ini saya belajar sejarah kalkulus, mengapa kalkulus penting, kritik terhadap kalkulus, kalkulus masa depan, dan lain-lain. Poin-poin yang terakhir ini yang disebut dengan belajar TENTANG matematika.

Yang menarik bagi saya adalah asal mula kata matematika itu. Konon, matematika berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti ilmu (knowledge, science). Jadi orang yang belajar matematika adalah orang yang mencari ilmu. Masuk akal, bagus.

Matematika, dalam bahasa Yunani, juga berarti sebagai belajar. Jadi, orang yang menekuni matematika adalah orang yang tekun belajar. Bagus, masuk akal. Saya setuju. Bagaimana pendapat Anda?

Yang ketiga, dalam bahasa Yunani, matematika juga berarti suka belajar. Jadi matematika itu adalah riang gembira dalam proses belajar. Bagus…tapi tampaknya kok jauh berbeda dengan kenyataan yang ada.

Apakah anak-anak kita senang belajar matematika?

Apakah kita dulu senang mempelajari matematika?

Apakah para guru senang mengajarkan matematika?

Hanya sedikit yang akan menjawab positif. Justru banyak orang yang menjawab bahwa matematika itu sulit. Matematika itu membebani. Saya yakin penyebabnya adalah metode pembelajaran matematika yang tidak tepat. Saya mencatat ada beberapa metode pembelajaran matematika.

Metode tradisional. Seperti umum kita lihat, metode ini mengajarkan matematika sebagai ilmu pasti – yang paling pasti di antara ilmu pasti yang lain. Kebenaran matematika tidak perlu dipertanyakan lagi. Jadi matematika seperti doktrin. Bagaimana mungkin anak-anak kita akan menyukainya?

Metode mendorong. Karena memang tidak selalu mudah memahami konsep matematika secara benar, beberapa pendidik menyuruh para siswa menghafal matematika. Beri siswa sebanyak-banyaknya materi. Suruh untuk menghafal. Paham atau tidak urusan lain. Memangnya bagi seorang guru SD, apakah mudah memahami konsep matematika? Apakah guru SD mendapat fasilitas khusus untuk memahami matematika? Bukankah guru SD adalah guru umum? Menghafal adalah jalan pintas. Tetapi menghafal matematika adalah tugas yang amat berat.

Metode latihan. Siswa mendapat latihan yang berlimpah. Dengan pengulangan latihan, secara bertahap anak-anak akan mulai memahami konsep matematika di balik latihan itu. Menurut saya cara ini bagus. Tetapi bagaimana seorang guru dapat menyusun latihan-latihan yang terstruktur untuk memahami konsep matematika? Butuh investasi waktu, biaya, dan keahlian khusus. Jika pemerintah (Diknas) akan menempuh jalan ini, saya setuju. LKS (lembar kerja siswa), tampaknya, mengambil metode ini. Tetapi saya belum pernah melihat LKS yang memiliki konsep pembelajaran matematika yang bagus.

Metode pemecahan masalah – problem solving. Para siswa menerima tantangan berupa beberapa masalah. Untuk memecahkan masalah ini, siswa memerlukan beberapa pendekatan matematis. Pendekatan ini sangat menarik dan menantang. Bila kita dapat menciptakan suasana riang maka kita akan berhasil menghadirkan matematika menjadi tantangan bagi siswa. Dalam tingkat internasional selalu ada masalah matematika yang belum terpecahkan. Yang paling berumur panjang – 300 tahun lebih – adalah pembuktian teori terakhir Fermat. Baru terbukti tahun 1995 yang lalu. Beberapa event juga mendukung pendekatan ini seperti Olimpiade Matematika Internasional.

Metode cerita. Ini metode yang sangat menarik. Teman saya yang dari Informatika ITB menyukai kalkulus karena di setiap bab buku kalkulus selalu ada sejarah singkat tokoh-tokoh kalkulus. Film Beautiful Mind menceritakan perjalanan hidup John Nash – peraih nobel, tokoh matematika –  yang mengagumkan. Metode ini sangat inspirasional, sangat menakjubkan, dan menarik. Tetapi bagaimana caranya?

Metode Matematika Baru. Pembelajaran matematika yang berfokus pada konsep abstrak matematika seperti teori himpunan, fungsi, bilangan biner, dan lain-lain. Mungkin hanya orang tertentu saja yang menyukai ini. Dulu, kurikulum 1994, memasukkan matematika baru sebagai bahan ajar untuk anak tingkat SMA. Kurikulum yang sekarang, sepertinya, tidak lagi.

Metode Standard Based Mathematic. Diterapkan di Amerika dan Kanada. Dewan Pendidikan mereka menetapkan standar-standar yang perlu dicapai untuk setiap tingkatan siswa. Mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan khusus. Pembelajaran menerapkan teori konstruktivisme. Mungkin KBK dan KTSP ingin mengacu ke standar ini. Tetapi tampaknya masih jauh dari ideal.

Metode Permainan. Ini metode yang sangat efektif bagi anak-anak. Anak-anak akan menyukainya. Namanya saja permainan! Tetapi diperlukan inovasi terus-menerus bagi pendidik untuk menciptakan permainan matematika yang atraktif. APIQ banyak menggunakan metode ini.

Saya yakin masih banyak metode lain. Saya di APIQ mencoba meramu beberapa metode agar mengantarkan putra-putri kita menguasai konsep matematika secara menyenangkan. Sesuai dengan akar bahasa Yunani, matematika adalah suka belajar.

Posted in Uncategorized | Leave a comment